Missing Link

•October 25, 2009 • Leave a Comment

It’s been awhile since our last chat
It’s been months actually since we truly chat
It’s been years for real since we met each other
It’s been decade since i decide to go someplace

and…

It’s been awhile since I’ve been thinking that you are my missing link to that place

Where are you now? Have you done your unfinished business? I’d be gladly wander or even lurking around. Just tell me when you’re okay to be my missing link, we’ll go to that place together…

Jadi Dokter?

•October 4, 2009 • Leave a Comment

Berdasarkan pengalaman pribadi, gue gak akan membiarkan anak gue jadi dokter nantinya. Mereka melakukan kontak dengan virus lebih banyak tetapi tidak lebih kebal dibanding manusia dengan profesi lainnya. Akibatnya? Wah, perkembangan virus justru lebih ganas ketika seorang dokter sakit dibanding pasiennya yang sakit. Ibarat makan es buah, anda tidak tahu apa saja yang disajikan di dalamnya, dan menyebut kata “Fanta” untuk sebotol soda justru lebih mudah. Jadi, kembali pada kalimat pertama, gue mungkin akan sangat berat mengiyakan putusan anak gue untuk jadi dokter nantinya…kalau dilarang nyatanya tidak mungkin…

If You Love Reading, Then Read Everything Useful

•October 1, 2009 • Leave a Comment

I just chat with one of my friends in messenger. IN FACT, i still have this conversation box open. While chatting, we manage to argue and debate about how ‘help’ menu could be a great source of information.

From this point on, i had this question in my head: “if you like reading, why only read those books you like, and not those information you need (e.g: help menu, newspaper, user’s guide book of a device or gadget)?” I wonder, there were so many people back then who admitted to me how they prone to reading. Those pile of memories of books title they had read. But, the counterpoint was these people never truly ‘read’ any informational source regarding something that they were engaged to. Like for example, twitter.com.

So many info you can gain upon reading the help menu, not only a video of “how to use twitter”, it provides you extra explanation of how a replies works, what’s a ReTweet (RT) is, and so much more. But, a ‘help’ menu is never truly read. This is so contradictory to the hobby of reading these people has.

My word of advise: if you do like reading, please make sure yourself to read something useful. With this hobby of yours, i’m sure you would catch the idea of those informations while you reading. As i never seen any help that goes out of the topic. Confusing and complicated perhaps, but it won’t take you further from what you’re looking for. Of course, if you’re reading the right one.

How to avoid the wrong info? The answer is simple, ‘read’ carefully. You would know if it strays you out of the topic.

HAPPY READING!

* inspired by Ica, who happens to be a curious friend of mine :)
** her twitter as she approved to be displayed:
cukupicaaja

Pencerahan

•September 22, 2009 • 1 Comment

Aku sedang  ada di sana, sambil melamun sendirian
Asik berkelana bersama pikiran, liar sejadi-jadinya
Lantas datang seorang pengembara, hadir perlahan
Menarik diriku keluar dari gelut benak tak terkira

“Ayo, segera dilakukan!” katanya
Ia tak sabar mengajak diriku beraksi
“Nanti dulu yah…” kujawab
Aku belum mau bergerak

Waktu dan penyesalan selalu berjalan bersama
Waktu dibuang di awal, penyesalan datang di akhir

“Tekad adalah modal hidup utama manusia” katanya
sementara lainnya berujar “Hidup adalah perbuatan”

Jadi kupikir, tekad untuk hidup dan berbuat sesuatu merupakan cara untuk menilai kehidupan manusia. Nah, terlintas di benak ini, sudah seberapa kuat tekadku untuk bisa melakukan sesuatu dan menyambung hidup ini? Kurasa masih lemah, karena pengembara masih terus datang dan mengatakan hal yang sama: “Ayo, segera dilakukan!”.

Waktu selalu berjalan dan tidak dapat diputar balik, sementara di akhir mungkin menunggu penyesalan apabila aku tidak segera ‘berbuat’ sesuatu yang bisa ‘menghidupkan’ diri ini. Ini yang kumaksud dengan pencerahan, ini adalah sesuatu yang kualami akibat terlalu banyak melamun dan berkelana di alam mimpi. Lupa diri, lupa hidup, lupa bertindak dan berbuat. Semoga menjadi inspirasi kamu yang sedang ‘asik’ berkelana juga…jangan terlalu lama…nanti habis waktu untuk beraksi…

Idul Fitri This Year

•September 20, 2009 • Leave a Comment

Hari ini gue menjalani hari penutup sekaligus pembuka. Ya, ini adalah hari pertama bulan Syawal Idul Fitri tahun 1430 Hijriah yang sekaligus menjadi penutup bulan Ramadan yang telah lewat. Tidak banyak yang istimewa di hari ini. Hanya saja gue terlambat bersiap-siap akibat bangun terlambat, akhirnya solat ied terbengkalai (lagi) untuk ketiga kalinya secara berurutan.

Ibadah tahun ini di bulan Ramadhan bisa gue bilang masuk kategori cukup. Gue berpuasa sebulan penuh (meskipun ada beberapa hari dijalani tanpa sahur), solat wajib 5 waktu sudah berusaha gue dirikan, dan gue melakukan solat tarawih (kembali setelah sekian lama tidak). Tidak puas memang rasanya, cenderung agak sedih karena gue melewatkan solat Ied yang justru ‘trademark’ nya hari raya Idul Fitri.

MENYEBALKAN! Itu kata yang pas untuk menggambarkan situasi pagi ini…semoga gue masih diberikan umur panjang untuk bisa berjumpa kembali dengan Ramadhan tahun depan dan Idul Fitrinya, amin!

*Jakarta, 20 September 2009 Masehi (1 Syawal 1430 Hijriah)

Jalan-Jalan Jakarta

•September 16, 2009 • 2 Comments

Halo pembaca, kali ini gue mau sedikit sharing pendapat dan pengalaman seputar berkendaraan di Jakarta selama seminggu terakhir yang gue alami. Kisah kali ini ringan saja sifatnya, tidak akan ada hal-hal yang sifatnya teoritis dan segala tetek-bengeknya. Hanya kisah-kasih selama gue berkendara berkeliling kota tercinta penuh polusi ini :)

Mengagetkan, merupakan kata yang tepat digunakan untuk menggambarkan apa yang terjadi selama gue mengendarai mobil di Jakarta seminggu terakhir ini. Setelah vakum duduk di belakang kemudi selama kurang lebih 2 bulan. Gue akhirnya mengemudi kembali karena ada keperluan seputar otomotif di daerah Kresek, Jakarta Barat. Selama berkendara menuju kesana dan dari sana, gue menjumpai cukup banyak perilaku ‘brutal’ (kita sebut saja begitu) para pengendara lainnya. Baik itu sepeda motor, mobil, truk, bis, maupun sepeda genjot, hampir semua yang gue lalui dan lihat di jalan menampilkan ‘perilaku’ yang menurut gue mengkhawatirkan.

Hilang sudah etika berkendara di Jakarta nampaknya. Tidak ada lagi ‘tanda’ yang diberikan dalam bentuk lampu sein ataupun lambaian tangan ketika hendak berganti jalur atau berbelok. Bahkan ketika seorang pengendara motor secara tidak sengaja menyenggol kaca spion mobil gue, mengangkat tangan sebagai isyarat ‘minta maaf’ pun tidak dilakukan. Persimpangan dengan lampu merah pun tidak diindahkan di beberapa tempat, sebut saja di pertigaan Gedong Raya (arah Depok, Condet, dan Pasar Rebo). Motor maupun mobil dengan seenaknya ‘nyelonong’ bahkan ketika jalur mereka jelas-jelas sedang merah lampu lalu lintasnya.

Apapun sebabnya, hal-hal semacam ini jika dibiarkan berlarut-larut bisa menimbulkan kericuhan massal.  Sebagaimana disampaikan oleh Muluk (2009) dalam Kompas (saya lupa edisinya, tapi bulannya September). Bagaimana tidak, sikap dan perilaku ‘ugal-ugalan’ yang ditunjukkan oleh setiap pengemudi kendaraan bermotor bisa dianggap ’stressor’ (sumber stress) oleh pengendara lainnya. Boleh jadi toleransi para pengendara pada akhirnya akan menurun dan tindakan ‘anarkis’ pun dilakukan dengan sengaja. Misalnya, sengaja menyenggol spion kendaraan lain dalam rangka ‘mengingatkan’ pengendaranya bahwa ia telah mengemudi secara sembrono (menurut persepsi yang melakukan penyenggolan). Nah, bukankah tindakan ini juga dianggap sebagai sebuah kesembronoan oleh ‘korban’ penyenggolan? Jika sudah begini, kita tinggal menghitung mundur waktu dan meledaklah amuk massa akibat satu sama lain saling berprilaku ‘barbar’.

Jujur saja, tingkah-laku semacam yang gue jabarkan di atas itu benar-benar mengesalkan dan tidak dapat ditoleransi. Masih tidak apa-apa kalau hanya gue seorang yang merasa demikian, itu artinya ada subyektivitas di sini. Gue mungkin terlalu skeptis dengan kondisi lalu lintas Jakarta. Tapi kalau sudah lebih dari beberapa orang yang menyuarakan hal serupa, bahkan hingga masuk artikel analisis di Kompas yang ditulis oleh seorang dosen fakultas negeri, bukankah ini berarti memang Jakarta punya kondisi lalu-lintas yang mengkhawatirkan?

Sekarang, jalan-jalan di Jakarta hanya menyenangkan dilakukan ketika waktu sudah lewat dari pukul 11 malam. Kenapa demikian? Jalanan sepi kawan! Hiruk-pikuk jam padat pengendara, terutama jam pulang kantor, tidak akan bisa elo temukan. Kalaupun ingin dilakukan siang hari, coba saja dilakukan di hari raya Idul Fitri. Rasanya sama saja, sepi dan tidak ada hiruk pikuk pengendara brutal.

Memprihatinkan, ini satu kata yang juga tepat digunakan untuk menggambarkan kesemrawutan Jakarta terutama lalu lintasnya. Budaya tertib lalu lintas di Jakarta tinggal semboyan saja. Pelbagai rambu dan marka jalan yang terpasang tidak lagi diindahkan. Bahkan zebra cross pun tidak lagi dianggap meskipun ada orang yang sedang menyebrang di atasnya.

Jakarta, kasihan benar dirimu…aku tidak bisa berbuat apa-apa kecuali berjuang dengan semangat kemandirian untuk memperbaikimu dimulai dari diriku sendiri…

I Need Motivation, Now!

•September 7, 2009 • Leave a Comment

It’s been approximately 1.5 years i am stuck in this condition of unproductive. I should have finished my thesis last semester ideally. But i found this task so hard, that i lack internal motivation. Now i almost forgot what to do next since the last meeting with my tutor.

Yes, i’m the kind of person that only moves whenever internal motivations take part. GOD, GRACE ME YOU WILL TO LIVE…I WANT TO SURVIVE THIS TEST OF YOU!!
So help me God…i’d try my best hence…

The Letter

•July 16, 2009 • Leave a Comment

I wrote a letter to you
I put all my compassion making it
It took days and nights to complete
How should I give it to you?

I broke a leg for you
I used all my strength
It made me crippled
Yet, were these enough for you?

Now you’ve walked away
Turned your back left me behind
I guess all that wasn’t enough for you
Who am I to give it all to you?

Drowned to every bottom of the glass
Having a shot or two
Trying to escape from reality
I couldn’t stand watching you fade away, with someone new

Where to burn all that letters?
Where to throw away all that sacrifices?
How could you leave me behind?
Am I not good enough for you?

Drowned to every bottom of the glass
Having a shot or two
Trying to escape from reality
Here I sit watching you fade away, with someone new

So I’ve burned all that letters
I’ve thrown away all that sacrifices
So you should leave me behind
As I’m not good enough for you

Writing as a Stress Reliever (personal thought)

•July 14, 2009 • Leave a Comment

“Do writing whenever you feel stressed”

That thought always rings in my head when i feel down and don’t know what to do or where to go to have the pain away.

I was watching KickAndy (a talkshow in MetroTV of Indonesia, hosted by Andy F. Noya) with the topic of disease. There was this one man, who were crippled as he was having a multiple sclerosis. He told the audience that it was very frustrating back then for him, unable to do anything at all not even moving his own body. He needed help to reach, to move places, and to have basic needs like eating. The thought of writing to relieve stress was once announced and talked about by this man. He told stories of how he wrote everyday since he was able to move his hand (barely). Eventually, when he healed completely (but still using wheelchair now) a biography of his entire life and about this disease is finished. His wife helped him to print and to distribute it around some bookstore.

I started this out with that story, just as reminder how writing can be a useful cure for those who lives with stress and depression. Even one man can change his view of this life, though was crippled and barely could move any part of his own body, just by practice some writing. Anykind of writing, just write what you like whenever you feel you are into it. No need to feel ashamed to know that yours is filled with heart-to-heart-personal-matter stories. Doesn’t matter at all, as long as you enjoy, then do it. Thus, great things started by crazy ideas that we enjoy doing it no matter what other people says.

Well, surely this one helps you all out there to understand the better use of writing. Start to write now, and be proud of it. Because if you won’t then no one would. Have a nice day dear reader!

Speed-ie??

•June 16, 2009 • 1 Comment

I wonder what to trust from this Telecommunication Speed that has its slogan everywhere. “Speed that you can trust”, is it something that were so easy to be said. Hey, we all are consumers and need some good service instead of a-hot-chick-riding-a-sport-car-advertisement!!

Nevertheless, im getting much more complain from some of my friends and colleagues rather than positive comments for this s0-called-Speed services. So im starting to ask myself, is a few hundred thousands Rupiahs worth the service in general. Eventually, one may come to a conclusion of saying “NO!”.

Please, maintain your customer with care. Our loyalty should be thanked with better services.
Yeah, i notice that it has promo package etc to gain more customer. This could mean that it is losing its customer, one by one. Keep this bad service and ‘down’ connection every once a week, and it might find itself stops the service.

Gosh!!